ADS

Tuesday, 26 July 2016

ASAL MULA JOGJA ORA DIDOL

sejarah asal mula jogja ora didol

Adalah salah satu bentuk movement "merthi kutho" dari teman-teman street art  Jogja untuk mengkritisi kondisi ruang publik yang beralih fungsi menjadi lahan iklan yang dikuasai para pemilik kepentingan ekonomi di Jogja sendiri.
Asal muasal "Jogja Ora Didol" berawal dari teman-teman street art yang memakainya sebagai background set pementasan teaternya Jamaluddin Latif (Mas Jamal) di FKY ke-25 pada Juni 2013 lalu. Teater berjudul "Kota Untuk Manusia" membawakan kalimat Jogja Tidak Dijual dengan plat seng sebagai media muralnya. Disusul kemudian "Festival Mencari Haryadi" yang pentas pada bulan Oktober ditahun yang sama dengan teman-teman street art yang diminta pula untuk menyumbangkan karyanya.
Dari sinilah ungkapan "Jogja Tidak Dijual" bertransformasi menjadi JOGJA ORA DIDOL dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, dari media plat seng ke media tembok. Ternyata perpindahan tersebut tidak hanya pada bahasawan media yang digunakan, tetapi yang pada awalnya tidak dipermasalahkan tiba-tiba menjadi masalah yang begitu besar.
Berbagai bentuk simbol dukungan untuk menyuarakan ungkapan Jogja Ora Didol pun kemudian ramai digencarkan. Dari mulai hashtag #JogjaOraDidol di social media, berbagai merchandise seperti kaos bertuliskan Jogja Ora Didol, hingga sebuah lagu hip-hop beraliran yang dipersembahkan oleh Jogja Hip-hop Foundation dengan judul yang sama dengan ungkapan tersebut. Selain itu masih banyak pula simbol-simbol dari ungkapan Jogja Ora Didol yang dikemas secara kreatif namun tetap kritis.

Jika di Bali ada gerakan Bali Tolak Reklamasi, maka di Jogja ada Jogja Ora Didol !.